Hijau, Lestari, Menghidupi

Penduduk Terus Bertambah, Produksi Pangan Menurun. Bagaimana Mengatasinya?

Menurut data dari PBB, jumlah manusia saat ini sudah mencapai 7.3 miliar jiwa. Pada 2050 mendatang, jumlah itu akan meningkat hingga 9.3 miliar jiwa. Jika mencapai lebih dari itu, dipastikan menimbulkan banyak masalah jika tidak ditangani mulai sekarang. Dan salah satu permasalahan tersebut adalah pangan. Produksi pangan harus terus meningkat untuk menghidupi 9.3 miliar jiwa tersebut.

Di masa permasalahan tersebut timbul, jumlah petani berkurang, urbanisasi tidak seimbang, dan banyak keterbatasan lahan yang otomatis juga menjadi masalah serius dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah perkotaan merupakan warga yang paling rentan terhadap resiko kerawanan pangan seperti ini.

 

penduduk-terus-bertambah

 

Sedangkan, peningkatan produksi pangan sebanyak itu sangat sulit. Ditambah lagi jumlah lahan yang digunakan untuk pertanian dan perkebunan tidak seimbang dan tidak merata. Kemudian permasalahan pencemaran yang berdampak pada kesuburan tanah.

Walaupun demikian, meningkatkan produksi pangan bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Salah satunya dengan mewujudkan pertanian di perkotaan yang lebih familiar disebut urban farming. Istilah ini memang tidak baru ditelinga masyarakat Jakarta, bahkan akhir-akhir ini urban farming sudah menjadi trend di kota-kota besar di dunia. Pemerintah dan beberapa komunitas sosial sudah menjalankan sistem ini, namun tidak semuanya berjalan mulus, karena bertani di perkotaan memang membutuhkan trik khusus.

Hambatan yang biasa ditemui diantaranya keterbatasan lahan, penyinaran matahari, maupun media tanam seperti air dan tanah untuk bercocok tanam. Namun, dengan berkembang pesatnya teknologi dan inovasi, sudah ada beberapa cara untuk menyelesaikan masalah tersebut yakni dengan melakukan pertanian vertikal, hidroponik, atau aquaponik.

Walaupun sudah dilakukan oleh pemerintah dan beberapa komunitas sosial, banyak yang masih berpikir bahwa urban farming adalah tren gaya hidup. Sedangkan, tren ini belum diproyeksikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Sehingga ketidakseriusan penggarapan urban farming ini mengakibatkan masih banyaknya impor yang dilakukan pemerintah. Karena pemerintah sendiri belum menjadikan pangan sebagai isu utama. Pembahasan pangan hanya dilakukan ketika terjadi krisis dan setiap kali krisis, solusinya adalah impor.

Padahal urban farming sudah terbukti efektif dalam permasalahan pangan di negara maju yang bahkan lahannya lebih kecil dan sempit daripada di Indonesia. Misalnya Kanada dan Inggris, yang sudah menyisipkan urban farming dalam peraturan dan perencanaan tata ruang dan kotanya.

Di Indonesia masih banyak masyarakat yang belum benar-benar sadar jika ini bisa mengatasi kasus kelangkaan dan harga bahan pokok yang melangit, sehingga memulai pun masih dianggap sulit. Dikarenakan banyak terjadi permasalahan sosial dalam pelaksanaannya seperti pencurian tanaman hasil pertanian atau perkebunan. Sehingga kunci di sini adalah pelaksanaan yang massive, karena jika jumlah bahan pangan tidak cukup, maka secara paralel akan berdampak pada ketergantungan antara suatu Kawasan atau wilayah terhadap kawasan lain.

Selain menghadirkan pangan sehat untuk keluarga, sistem ini juga menekan kegiatan impor yang sebenarnya tidak perlu, mengurangi pengeluaran untuk belanja keperluan dapur bahkan juga sekaligus menjadi pendapatan tambahan bagi yang menjualnya. Urban farming juga menghadirkan hunian ramah lingkungan yang juga menjadi sekaligus mengatasi kejenuhan pemilik rumah atau kawasan. Bahkan jika dijadikan penghasilan utama, pemilik perkebunan atau pertanian di dalam kota ini juga bisa memanfaatkannya sebagai sarana edukasi sekaligus ekowisata.

Berbagai macam sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, selada, pokcoy, kemangi serta umbi-umbian adalah contoh-contoh produk pertanian yang mudah dan murah untuk dibuat oleh masyarakat. Terlebih lagi jika dilakukan dengan metode hidroponik, ada banyak alternatif penanaman seperti di dinding rumah, tangga, ataupun di balkon rumah. Wadah yang digunakan bisa dari barang-barang bekas seperti botol bekas, ember bekas, ban mobil bekas, bahkan sepatu boot bekas. Apalagi media penanaman yang banyak pilihannya, bisa berupa sabut kelapa, kulit kacang sekam padi, atau tanah.

Untuk irigasi, air hujan sangat penting digunakan sebagai media penyiraman tanaman pertanian perkotaan. Ai hujan bisa ditampung terlebih dahulu sehingga saat tidak ada hujan, air yang sudah ditampung bisa dimanfaatkan untuk penyiraman. Kemudahan yang didapat adalah tidak perlu membeli air yang bisa menambah biaya produksi dan memanfaatkan air yang terbuang percuma.

Maka dari itu, mengedukasi masyarakat terutama pada kalangan konsumen adalah caranya. Bila konsumen menginginkan harga murah maka harga di tingkat petani harus rendah. Ini tentu merugikan petani yang notabene-nya banyak berada pada kalangan ekonomi menengah di pedesaan. Konsumen, dan juga pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan petani, baik petani perkotaan maupun petani di desa. Dan solusi terbaik dari permasalahan tersebut adalah melakukan urban farming dengan massive.

 

Penulis: Putri Hana Syafitri

 

Referensi:

http://administrasipublik.studentjournal. ub.ac.id/index.php/jap/article/view/818

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/106/1/012052/pdf

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042815061868

https://smartcity.jakarta.go.id/blog/265/urban-farming-di-jakarta-bagaimana-caranya

https://www.itb.ac.id/news/read/4245/home/urban-farming-belum-jawab-ketahanan-pangan

Bagikan:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *