Hijau, Lestari, Menghidupi

Mengabaikan Mangrove Setara Dengan Menghancurkan Dunia. Mengapa?

Masih ingat bencana tsunami di Palu tahun 2018 silam? Ada sebuah kampung di Teluk Palu yang setidaknya berhasil terselamatkan, beberapa rumah masih utuh dan kokoh. Warga bahkan takjub sebab tiada jejak air di rumah mereka, padahal rumah mereka hanya berupa rumah panggung khas Suku Bugis dan jaraknya justru 100 meter dari pantai.

Berbeda di pesisir Kota Palu yang tidak ditanami hutan mangrove ataupun vegetasi lain. Di sana, hanya tampak puing bangunan. Banyak korban hilang karena tertimpa puing bangunan. Di sini, vegetasi menjadi kunci utama mitigasi bencana, terutama mangrove.

 

Mengabaikan-Mangrove-Setara-Dengan-Menghancurkan-Dunia

 

Memiliki akar yang menyembul ke dalam dan permukaan tanah, kayu yang kuat dan tinggi, mangrove bisa menjadi pelindung bagi masyarakat pesisir sebagai jumlah terbanyak penduduk Indonesia. Mangrove juga menjadi tempat berlindung paling aman karena menahan gempuran laut yang pasang. Menurut PBB, pada 2017 setidaknya ada 2,8 miliar orang yang tinggal di 100 kilometer pesisir.

Namun sayangnya, hutan mangrove di Indonesia berada dalam kondisi kritis saat ini. Sebagian besar hilang akibat konversi lahan untuk budidaya perikanan dan pembangunan. Padahal Indonesia sempat dinobatkan menjadi negara dengan hutan mangrove terluas di dunia sekaligus terkaya dengan jenis mangrove dan keanekaragaman hayatinya karena berada di wilayah tropis. Luas mangrovenya bahkan mencapai 25% total mangrove dunia. Dari sekitar 70 spesies mangrove tercatat di dunia, 43 jenisnya dapat dijumpai di Indonesia. Kabar baik tersebut nyatanya tidak berangsur lama, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan mangrove tercepat di dunia menurut National Geographic.

Jika mangrove dikonversi atau ditebang untuk fungsi kehidupan lain, maka karbon yang tadinya diserap oleh mangrove dan disimpan di bawah lautan akan dilepas kembali ke udara secara otomatis.

Menurut anggota penyusun laporan panel antar pemerintah untuk perubahan iklim PBB (IPCC), saat ini karbon yang tersimpan di hutan mangrove Indonesia mencapai 3.14 miliar ton. Sedangkan untuk bisa mengeluarkan karbon sebanyak itu, Indonesia butuh waktu hingga 20 tahun. Besarnya potensi penyimpanan karbon, membuat seluruh lapisan masyarakat sangat butuh menjaga hutan bakau di Tanah Air. Pasalnya, jika sampai terjadi deforestasi mangrove, maka akan ada karbon yang dilepaskan ke udara.

Artinya, ada emisi yang kembali udara. Menurut IPCC, emisi tahunan dari kerusakan hutan mangrove Indonesia mencapai 190 juta setara karbon, jumlah yang sama dengan emisi jika setiap mobil di Indonesia mengitari bumi hingga dua kali.

Maka dari itu perlu penyadaran serta langkah yang tepat untuk penyelamatan pesisir dan pulau-pulau kecil, terutama yang rentan terhadap abrasi seperti Palu. Bila semua masyrakat paham tentang potensi besar mangrove, otomatis akan ada potensi ekonomi yang besar serta bisa memberikan keuntungan melalui proses jual beli yang diprediksi akan ramai di masa mendatang.

Banyak sekali fungsi ekologis seperti menunda perubahan iklim dengan menyerap dan menjaga karbondioksida, ataupun menjadi pencegah abrasi atau pengikisan pantai oleh gelombang air laut. Terutama untuk warga pesisir, abrasi merupakan momok yang paling menakutkan. Bagi nelayan, mangrove berguna untuk menjaga jumlah ikan agar seimbang. Ketika mangrove pertumbuhannya tidak baik, maka bisa dipastikan ikan juga akan berkurang. Bukan hanya untuk manusia, mangrove juga menjadi tempat hidup udang, kepiting, belut, dan siput laut. Jika mangrove benar-benar dilestarikan, pasti juga meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir pantai.

Apalagi saat ini sedang ramai dibicarakan mengenai perdagangan karbon, yakni berupa jual-beli stok karbon. Sistemnya, ada pihak lain yang membayar jasa untuk pihak yang sudah menjaga stok karbon untuk keperluan stabilisasi perubahan iklim. Walaupun saat ini pasar karbon belum tersedia, jika Indonesia bisa mengupayakan hal ini, tentu akan menjadi keuntungan yang besar dari segi perekonomian.

Bila membicarakan benefit, nyaris semua hal yang dimiliki mangrove bermanfaat bagi manusia, bukan melulu menjadi ekowisata. Selain menjadi habitat udang, kepiting, belut, dan siput laut, kayu mangrove bisa menjadi bahan bubur kertas, bahan perahu nelayan, kayu bakar, dan obat-obatan.

Kerusakan mangrove di Indonesia yang saat ini sudah terjadi, berdampak pada kerusakan mangrove di dunia. Karena fakta menunjukkan bahwa emisi global tahunan dari rusaknya ekosistem pesisir berasal dari rusaknya hutan mangrove Indonesia. Menurut IPCC, setiap tahunnya ada 52 ribu hutan mangrove Indonesia hilang, setara dengan area seluas kota New York di AS dalam 18 bulan.

Bila tidak ada langkah lagi setelah ini, baik dari pemerintah maupun masyarakat, dunia tentu turut terancam.

 

Penulis: Putri Hana Syafitri

 

Referensi:

http://www.fao.org/3/a1427e/a1427e00.htm

https://www.mongabay.co.id/2018/07/27/mangrove-itu-bermanfaat-sekaligus-terancam-kenapa/

https://www.beritasatu.com/nasional/539303-vegetasi-mangrove-mampu-kurangi-terjangan-tsunami.html

https://lokadata.id/artikel/mangrove-yang-meredam-tsunami-di-donggala

Bagikan:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *